Origin, Novel-nya Dan Brown yang Membuat Kita Murtad atau Sebaliknya?

April 19, 2020


Sebenarnya sudah lama saya kepengen baca bukunya Dan Brown yang keluar tahun 2017 ini. Tapi lihat jumlah halamannya yang sampai 500-an dan harganya yang cukup mahal, nafsu brutal pengen baca bisa ditahan-tahan.

Namun efek #dirumahaja, beberapa hari lalu saya iseng buka-buka Play Book di Smartphone. Ketemulah sama Origin. Iseng aja coba baca free samplenya. Ah, dasar novelis level dunia, saya bener-bener dibuat tersihir dengan 100 halaman pertama yang gratisan itu.

Kalau beli e-booknya, harganya 60 ribuan saja. Sementara kalau beli buku fisiknya kan dua kali lipatnya. Efek penasaran banget, dengan mengais-ngais sisa Gopay akhirnya beli juga deh e-book Origin.

Alhasil, selama total 19 jam dalam 4 hari, diriku diajak jalan-jalan sama Robert Langdon ke Spanyol buat cari tahu dari mana manusia berasal dan kemana manusia akan pergi.

Kalau di Angels and Demons (2000) mengangkat tema agama dan sains, di The Da Vinci Code (2003) mengangkat tema agama dan seni, maka di Origin (2017) ini mengangkat tema agama dan sejarah. Origin adalah buku ke-5 dari seri Robert Langdon. Sebelumnya ada The Lost Symbol (2009) dan Inferno (2013). Katanya sih, Dan Brown sudah nyiapin sampai 12 judul loh untuk seri Pak Profesor Langdon ini.

Eh tau nggak, 3 novel pertama Dan Brown, seperti Digital Fortress (1998) dan Deception Point (2001) ternyata nggak gitu laku loh awalnya. Cuma terjual sekitar 10 ribu eksemplar saja. Baru setelah novel ke-4 The Da Vinci Code (2003) masuk daftar New York Times Bestseller pada minggu pertama-nya, 3 novel pertama akhirnya dilirik orang.

Di tahun 2004, 4 novel Dan Brown masuk daftar New York Times di minggu yang sama. Ah...bener-bener rezeki yang tertunda ya.

Apakah Origin sekontroversial The Da Vinci Code?

Sekarang mari kita kembali ke Origin. Kenapa buku ini luar biasa? Lebih kontroversial dari The Da Vinci Code nggak?

Kalau dari tema, buat saya Origin adalah yang temanya paling menarik dibandingkan buku Dan Brown yang lain.

“Darimana asal kita dan kemana kita akan pergi?”

Tentu saja ini sebenarnya pertanyaan yang terlalu klasik buat orang beragama. Kita berasal dari Tuhan dan kita akan kembali padanya. Titik. Nggak perlu dibahas. Kecuali kalau kita mau dibilang kafir, murtad, ateis, dan lain-lain.

Tapi bukan novelis level dunia namanya kalau nggak bisa bikin orang terhipnotis di 10 halaman pertama.

Novel Origin ini dibuka dengan kedatangan Edmond Kirsch - seorang ahli matematika yang mempelajari pola-pola dan jago memprediksi masa depan, ke Biara Montserrat untuk menemui 3 tokoh agama besar dunia. Ia akan menyampaikan penemuan terbarunya yang akan menghancurkan keyakinan banyak orang.

“Secara historis, orang paling berbahaya di dunia ini adalah para fanatik pengikut Tuhan...terutama ketika tuhan-tuhan mereka terancam.”

Ini adalah kalimat di bagian awal buku Origin, yang bikin kita sangat penasaran mengenai apa sih sebenarnya penemuan Edmond Kirsch itu.

Apa hubungannya Edmond Kirsch ini dengan Robert Langdon, profesor cerdas kesayangan kita itu?

Jadi si Edmond ini adalah mahasiswanya Pak Langdon di Harvard. Cuma si mahasiswa ini karena super pintar dalam memprediksi banyak hal, ia jadi lebih kaya dan terkenal dibanding pak dosennya. Edmond Kirsch bahkan dianggap nabi bagi para pengikutnya.

Ketika akan mempresentasikan penemuannya kepada dunia, Kirsch terbunuh. Plot kemudian berkembang seperti buku-buku Dan Brown sebelumnya. Profesor Langdon tersudut dan diburu waktu untuk berusaha memecahkan apa yang sebenarnya penemuan Kirsch. Mengapa Kirsch sampai dibunuh orang segala? Siapa yang ingin membunuhnya?

Dalam buku ini, perjalanan kita tidak akan terlalu jauh-jauh. Masih di seputaran Spanyol saja. Mulai dari Museum Guggenheim karya Frank Gehry di Bilboa, Biara Montserrat yang cantik di Catalonia, bangunan-bangunan klasiknya Antonio Gaudi seperti Casa Mila dan Sagrada Familia di Barcelona.

Duh, cara Dan Brown mendeskripsikan tempat-tempat itu, bikin saya langsung buka YouTube untuk melihat langsung lokasinya.

Asli penasaran ingin membayangkan bagaimana Robert Langdon berkelahi dan jatuh di tangga spiral yang curam di Gereja Sagrada Familia.

Banyak sekali pencerahan dalam novel ini yang saya dapatkan. Robert Langdon itu bener-bener ahli cucoklogi yang sangat cerdas dan rajin riset. Bisa-bisanya dia mengemas informasi-informasi yang tidak menarik, jadi nyambung dan bikin kita mikir.

Seperti beberapa waktu sebelumnya, saya sama Raka membahas mengenai materi tentang manusia prasejarah yang ada dalam mata pelajaran kelas 7. Kami nggak ngerti, kenapa juga anak kelas 7 perlu tahu segala macam tipe manusia prasejarah dan ciri-cirinya.

Eh, di novel Origin, ini dibahas loh. Bagian dari penjelasan bagaimana manusia berasal. Ilmu yang kami berdua ketawain ini, ternyata bisa bernilai jutaan dollar di tangan seorang penulis.

Karakter-karakter Menarik dalam Novel Origin

Eh, nggak khawatir novel ini bikin murtad?

Ini jelas-jelas novel loh. Cerita fiksi yang dijalin dengan konsep cucoklogi dari beberapa fakta-fakta sejarah. Banyak sekali pencerahan yang saya dapat dari novel ini. Saya suka banget cara Dan Brown mengemas pesan dalam karakter-karakter yang ia buat.

Edmond Kirsch walau hidupnya hancur karena agama, ia tidak pernah mengeluhkan mengenai hal tersebut.

“Edmond tidak sekalipun mengeluh kesusahan masa kecilnya. Malah dia menyatakan diri beruntung telah mengenal kesulitan sejak dini, karena kesulitan itulah yang mendorong dia meraih dua cita-cita masa kecilnya - pertama, membebaskan diri dari kemiskinan, dan kedua, mengungkapkan kemunafikan agama yang menurutnya telah merusak ibunya.” 

Paragraf ini menurut saya sangat menarik. Banyak orang yang merasa terbelenggu dengan beban masa lalu. Menyalahkan orang lain. Mereka jadi tidak bisa move on dan semakin merusak diri mereka sendiri dengan bayang-bayang masa lalu.

Edmond mengajarkan kita untuk tidak perlu seperti itu. Tidak ada gunanya juga! Jadikan masa lalu sebagai pendorong ke arah mencapai cita-cita yang positif.

Di sisi lain, ada karakter Luis Avila yang tidak mampu memberikan pengampunan karena anaknya yang berusia 3 tahun dan istrinya yang tengah hamil menjadi korban bom di Katedral Sevilla. Ia menjadi karakter yang mengambil pilihan yang berbeda dengan Edmond Kirsch.

“Teroris paling keji bukanlah orang yang merakit bom, melainkan pemimpin berpengaruh yang membangkitkan kebencian di antara massa yang berputus asa, menginspirasi serdadu mereka untuk melakukan tindakan kekerasan. 

Hanya perlu satu orang jahat yang berkuasa untuk mengacaukan dunia dengan menginspirasi intoleransi spiritual, nasionalisme, atau kebencian di kalangan orang yang mudah berpengaruh.” - Sang Regent 

Karakter menarik lain yang saya suka adalah Uskup Antonio Valdespino. Siapa sangka Dan Brown mengangkat tokoh uskup katolik untuk bicara tentang cinta.

"Injil memuliakan semua jenis cinta, dengan satu peringatan - cintanya harus bersifat spiritual, bukan jasmaniah. Karenanya, dengan sumpah selibat, aku dapat mencintai ayahmu, tapi tetap suci di mata Tuhan. Cinta kami platonis, tapi sangat membahagiakan." - Uskup Valdespino

Karakter brilian lain adalah Pastor Bena pemimpin Gereja Cantik Sagrada Familia yang pemikirannya sangat visioner. Tipikal orang beragama yang sangat cerdas dan berpikiran terbuka.

Terakhir, karakter Winston. Winston yang namanya diambil dari Winston Churchill ini, adalah karakter sebuah artificial intelligence yang sangat menarik. Kita diajak kenalan dan bersahabat dengan mesin. Kita bisa jatuh cinta padanya, berterima kasih padanya, dan sekaligus takut setakut-takutnya.

Penjelasan mengenai Tuhan ala Dan Brown

Salah satu dialog lain yang sangat bagus dalam novel ini adalah penjelasan Langdon ke Ambra Vidal mengenai keberadaan Tuhan.

“Pertanyaan akan Tuhan tergantung pada pemahaman akan perbedaan antara KODE dan POLA. 

Pola adalah rangkaian yang teratur dan dapat dibedakan. Pola muncul dimana-mana di alam. Seperti benih spiral bunga matahari, ruang heksagonal dalam sarang lebah, riak melingkar di kolam ketika ikan melompat.

Kode adalah sesuatu yang unik, spesial, mengandung informasi, membawa data, menyampaikan makna tertentu. Seperti bahasa tertulis, notasi musik, persamaan matematika, simbol-simbol. 

Kode tidak muncul secara alami. Kode adalah ciptaan yang disengaja oleh kesadaran yang cerdas. Notasi musik tidak tumbuh dari pohon, simbol tidak tergambar sendiri di pasir. Kode harus diciptakan.

Kode genetis seperti DNA pasti diciptakan oleh sesuatu yang cerdas. Membawa data instruksi spesifik yang membentuk suatu organisme...:” 

Sebagai pesan akhir yang menurut saya sangat penting dalam novel ini adalah penafsiran dari Kutipan buku William Blake: The dark religions are departed & sweet science reigns.

“Sains yang baik akan meruntuhkan agama kegelapan...sehingga agama terang dapat berkembang.”

Kesimpulannya, alih-alih bikin kita murtad, novel ini semakin bikin kita mengakui kebesaran Ilahi yang sifatnya sangat universal. Menyentuh hati kita yang paling dalam...


Data Buku Origin

Judul: Origin
Penulis: Dan Brown
Tahun Terbit: 2017
Penerbit Bahasa Indonesia: Bentang
Penerjemah Bahasa Indonesia: Ingrid Dijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, Dyah Agustine
Editor: Esti Ayu Budhihapsari
Halaman: 516 halaman


(1300 kata)

You Might Also Like

0 comments

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Name

Email *

Message *