Mengajak Anak Lebih Dekat Dengan Alam Semesta

Hari gene, masih adakah anak-anak yang punya waktu untuk menikmati keindahan alam semesta?

Merenung melihat hujan yang turun?

Memandangi indahnya bintang yang bersinar di langit?

Mendengarkan deburan ombak?

Mengejar kupu-kupu?

Jujur, anak saya sih nggak. Raka (12 tahun) dan Sasya (9 tahun), lebih menikmati video-video tentang alam di YouTube untuk tugas IPA atau main sama teman-temannya daripada merasakan indahnya sejumlah fenomena alam.

Kenapa bisa begitu?

Bisa jadi salah satu alasannya adalah karena sebagai orang tua, saya kurang mengajak anak-anak untuk lebih banyak memperhatikan keindahan alam di sekitar kita yang terjadi sehari-hari.

Nggak harus kok mengenalkan alam dengan traveling ke tempat yang jauh dan berbiaya mahal. Hal-hal sederhana di sekitar rumah juga sangat indah untuk diamati ternyata.

Semua itu setelah saya terinspirasi dari buku terbarunya Mbak de Laras yang berjudul Aku dan Alam Semesta.

Peluncuran Buku Aku dan Alam Semesta

Kebetulan sekali saya beruntung diundang untuk menghadiri acara peluncuran buku terbitan ITB Press ini pada 30 November 2019 lalu di Perpustakaan ITB. Jadi kenal deh dengan pengarang, ilustrator, dan cerita dibalik lahirnya buku anak ini.


Agak aneh juga sih, kenapa ITB Press yang kita kenal sebagai penerbit buku-buku text book kuliah, kok ya ngeluarin buku anak? Apa nggak salah?

Ternyata menurut editor buku, Pak Edi Warsidi dari ITB Press, hal ini karena rekomendasi seorang guru besar ITB. Tidak tanggung-tanggung, Profesor Bambang Hidayat - astronom yang juga pernah menjadi direktur Observatorium Bosscha, menjadi narasumber dibalik materi buku anak ini.

Pengarang sendiri yang memiliki nama lengkap Diadjeng Laraswati Hanindyani, memiliki latar belakang sebagai Perekayasa Madya di BPPT. Sebelumnya, ia dikenal sebagai blogger berprestasi dan sudah menghasilkan 8 buku solo loh.

Kalau disambung dengan karya ontologinya, wah bisa jadi kaya kereta api.
Standing ovation lah buat ibu-ibu yang sangat produktif seperti ini.


Ehm…kebayang nggak buku anak seperti apa yang mereka hasilkan. Pastinya buku yang serius dong ya.

Menurut cerita Mbak Laras, pembicaraan mengenai buku ini bersama Professor Bambang telah dimulai sejak bulan Februari 2019. Perlu waktu hingga 10 bulan untuk merampungkan buku yang terdiri dari 10 cerita, 137 halaman, dan 41 ilustrasi gambar tangan khas Mbak Tanti Amelia.


Siapa yang Perlu Membaca buku Aku dan Alam Semesta?



Jadi anak usia berapa target pembaca buku Aku dan Alam Semesta? Apakah buku ini untuk anak usia TK sesuai gaya ilustrasinya? Atau untuk calon mahasiswa ITB usia remaja?

Dari 10 cerita yang ditulis, sebagian besar tokohnya berusia 12 tahunan. Bahkan ada yang kelas 3 SMP seperti dalam cerita ke-10, Harumnya Aroma Kopi di Cangkir Aki.

Hanya ada 1 tokoh yang walau cara berbahasanya sempat saya tebak berusia belasan tahun, ternyata ada kalimat yang menyebutkan kalau ia masih menerima cubitan di pipinya dari ibu-ibu yang gemes. So, kayanya untuk cerita ke-7, Ronggur Sang Calon Nahkoda ada pengecualian.

Kalau menurut saya, buku ini cocoknya untuk anak SD kelas 5-6 yang sangat suka science dan alam semesta.

Yang ingin tahu mengenai apa sih sebenarnya bintang kejora itu.

Yang ingin tahu mengenai cara mengukur jarak bintang ke bumi.

Yang mau tahu bedanya kopi robusta dan arabica.

Atau yang penasaran dengan bahan-bahan pewarna alami untuk kain tenun di NTT.


Ya…buku ini sangat cocok untuk anak-anak yang punya rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan membaca yang sudah sangat baik. Karena banyak kalimat-kalimat super panjang yang ada dalam buku ini.

Seperti dalam cerita ke-4, Bahari Anak Suku Laut yang Pemberani. Pada halaman 42, kita akan menemui kalimat:

“Aku tidak betah duduk di dalam kelas, sejak kecil aku selalu berada di alam terbuka, udara laut, berayun di atas kapal, melompat ke dalam laut dari atas kapal, berlari berjemur sepanjang buritan di bawah sinar matahari, berpindah-pindah tempat, sudah menjadi bagian hidupku, bahkan aku sendiri lahir di atas perahu kecil kami.”

Atau dalam cerita Mira, Sang Penenun Muda. Pada halaman 57, terdapat paragrap yang bertuliskan:

“Setiap kali aku ingin ikut membantu, mama selalu melarang aku, mama memang sudah memberi tugas padaku, untuk membantu papa mencari bahan untuk membuat warna, biasanya daun nila, yang disebut juga daun traum, untuk menghasilkan warna biru, atau bersama papa mencari akar pohon mengkudu untuk membuat warna merah.”


Jadi paling kalau anak kelas 1-2 SD ingin baca buku ini, ada bagusnya dibacakan saja sama mamanya. Nanti mamanya bisa membantu menceritakan dengan lebih dipenggal-penggal kalimatnya biar lebih mudah dicerna anak-anak.


Saya juga suka pesan-pesan moral yang disampaikan dalam cerita-cerita di buku ini. Nggak beda jauh dari gaya saya menceramahi anak-anak. Seperti dalam cerita ke-10 Harumnya Aroma Kopi di Cangkir Aki.

Saya suka bagaimana Aki menasehati Sholeh mengenai arti kejujuran.

“Kejujuran adalah hal penting dalam menjalani kehidupan ini. Sekali tidak jujur, selesailah pekerjaannya. Mengerti itu, Jang?” kata aki menasehatiku malam itu.

“Ya Aki, Abah juga mengajarkan aku untuk rajin sembahyang, tidak lupa salat dan berpuasa,” sahutku. Abah hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Itu bagus, tapi tidak cukup. Itu ibadah. Itu ritual. Itu harus dilakukan untuk memelihara kedekatan kita pada Allah. Tapi yang terpenting adalah takut kepada Tuhan. Takut bukan berarti ketakutan ya, melainkan lebih pada takut melanggar larangan-Nya dan patuh pada perintah-Nya. Banyak orang rajin ibadah bahkan sudah beribadah ke tanah suci, tetap saja ia bisa berbuat curang, memakai uang orang lain bahkan menindas kehidupan orang lain,” aki menjelaskan panjang lebar dengan air muka yang berubah. Serius. (Halaman 130)



Itu adalah salah satu contoh dialog dalam buku solo ke-8 de Laras ini. Masih banyak lagi kita lihat dialog akrab antara si tokoh Aku dengan anggota keluarganya yang panjang lebar.

Dalem sih… Perlu mikir yang agak lama dan cemilan yang cukup untuk bisa mencerna.


Dimana buku ini bisa didapat?

Sementara ini buku Aku dan Alam Semesta bisa dibeli secara online di Tiara bookstore. Harganya Rp 150.000,- untuk edisi berwarna dan Rp 50.000,- untuk edisi hitam putih. Jadi bisa disesuaikan dengan budget buku bulanan keluarga ya.

Saya sendiri kemarin membeli yang edisi hitam putih. Karena kebetulan Sasya juga nggak masalah baca buku hitam putih ala komik. (Alah, alesan, padahal mamanya aja mau irit). 

Tapi beneran sih, buat saya, ilustrasi hitam putihnya Mbak Tanti tetap kece dan informatif.

Saya rasa, anak-anak yang membaca buku ini bisa jadi akan tergoda untuk membuat cerita mereka sendiri. Menceritakan dalam bahasa mereka sendiri bagaimana kisah hubungan mereka dengan alam semesta.

Sebuah cerita yang benar-benar lahir dari dialog mereka dengan alam semesta....


Newest Older

Related Posts

2 comments

  1. Terima kasih mbak Shanty sudah hadir dan memberi warna pada peluncuran buku Aku dan Alam Semesta. Terima kasih postingannya. Buku ini akan direvisi khususnya kaliman-kalinat panjangnya. Salam literasi

    ReplyDelete
  2. wah betul banget,
    untuk menikmati alam gak perlu jauh jauh, tapi kalo di rumah mereka mainan gadget hahahahaha

    terimakasih ya Shanti
    iya nih udah banyak kripik pedes untuk mbak De Laras - sehubungan dengan terlalu panjangnya kalimat yang digunakan, butuh cemilan berat (nasi goreng ama ayam - telor dadar - kerupuk) dih apaaaa coba

    ReplyDelete

Post a Comment