Membandingkan 3 Buku Gaya Hidup Minimalis

September 02, 2019



Sudah punya salah satu 3 buku bestseller ini? Atau malah seperti saya yang nggak nahan untuk nggak beli semuanya?

Kenapa sih sampai harus beli 3 buku setipe kaya gini?

Sebenarnya 3 buku ini saya beli bertahap. Buku pertama yang dibeli adalah buku The life-changing magic of tidying up, Seni beres-beres dan Metode merapikan ala Jepang-nya Marie Kondo.

Padahal sebenarnya saya sudah mempratekkan Konmari di rumah sebelum baca bukunya. Hanya dari video dan baca-baca info di blog, saya sukses menggunakan metoda Konmari untuk merapikan rumah sekitar 2 tahun yang lalu.

Walau begitu, saya tetap kepingin punya buku Marie Kondo ini karena banyak detil yang disampaikan di dalam buku yang perlu saya ketahui. Akhirnya di awal tahun 2017, kebeli juga nih yang sangat direkomendasikan oleh Dee Lestari.

Asli puas banget bacanya. Dalam buku setebal 200 halaman, Marie bercerita detil mengenai pengalamannya terobsesi dengan urusan beres-beres rumah.

Tu ya, kalau orang niat mah, segala urusan beres-beres rumah aja bisa dijadiin duit. Urusan beres-beres rumah bisa dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi bisnis serius bernilai jutaan dollar. Tawarannya adalah berbenah yang bisa mengubah hidup!

Siapa sih yang nggak kepengen membuat hidupnya menjadi lebih baik. It worth to try lah…

Emangnya apa sih intinya metoda Konmari itu?

Isi rumah hanya dengan barang yang benar-benar kita butuhkan saja. Kalau istilahnya Marie Kondo, “spark joy” atau membangkitan kegembiraan.Kita perlu memegang setiap barang dan merasakan apakah barang tersebut spark joy atau tidak.

Asli ini akan jadi PR ketika kita pegang barang orang lain. Sulit loh memahami mengapa kaos butut punya suami atau mainan cacat punya anak-anak ternyata merupakan barang penting buat mereka yang tidak boleh dibuang.

Kata Marie Kondo, Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah.


Beberapa prinsip Konmari:

  • Berbenah besar-besaran sekaligus. Sediakan waktu yang cukup untuk berbenah seisi rumah. Sebenarnya ini tergantung besar rumahnya juga. 

Pengalaman saya yang punya rumah sekitar 50 meter persegi, saya butuh waktu sekitar 5 hari untuk bongkar-bongkar. Hari pertama urusan pakaian dan kamar tidur, hari kedua urusan buku dan alat-alat tulis, hari ketiga urusan dapur, hari keempat adalah gudang dan pernak-pernik lainnya, dan hari kelima untuk merapikan sisa-sisanya.


  • Simpan barang-barang berdasarkan kategori, bukan lokasi. 

Jadi nggak perlu punya kaos kaki yang diletakkan di rak sepatu, lemari pakaian, dan laci. Alih-alih, kita bisa menyimpannya cukup di 1 tempat saja. Benda-benda yang bertaburan di mana-mana ini yang cenderung bikin berantakan dan sering hilang.


  • Mulai dari berbenah barang milik sendiri. Jangan membuang barang milik orang lain! Terkadang kita terobsesi merecokin barang orang lain, karena kita sendiri punya banyak sekali barang-barang yang tidak benar-benar kita butuhkan lagi. 

Suka deh, bagian Marie Kondo yang jujur menceritakan pengalamannya tentang bagaimana ia dimarahin karena membuang barang-barang keluarganya.


  • Jangan biasakan melungsurkan barang. Ini nih yang sering bikin orang menumpuk barang. Barang lungsuran biasanya tidak spark joy bagi si penerimanya. 


  • Setiap barang memiliki rumahnya. Kalau dibiasakan untuk disiplin meletakkan barang pada rumahnya, maka rumah akan tidak berantakan lagi. 

Ini nih yang kita sering salah. Kita cenderung suka mengembalikan barang dengan meletakkannya seenaknya. Taunya pas mau diambil, malah bingung barangnya hilang. Itu sebabnya menurut Marie, yang penting itu barang mudah untuk diambil, bukan mudah saat dikembalikan.


  • Simpan barang secara vertikal. Bukan ditumpuk. Ini termasuk barang-barang seperti buku dan pakaian.


Aneh tapi nyata, setelah bebersih rumah besar-besaran dengan menyingkirkan begitu banyak barang, rasanya enak sekali. Rumah terasa lebih lapang dan nyaman.

Kalau sudah begitu mestinya sudah cukup dong ya. Kenapa harus beli buku lain?

Buku kedua yang saya beli adalah Goodbye, things - Hidup Minimalis ala Orang Jepang karangan Fumio Sasaki. Apalagi nih? Dia niru-niru Marie Kondo ya?

Ya nggak lah. Buku yang ini saya beli karena menceritakan prinsip dari gaya hidup minimalis. Kalau Marie Kondo memulainya dari teknis berbenah, Fumio Sasaki memulai dari membagi filosofi dan manfaatnya hidup minimalis.

Mengenai bukunya Fumio Sasaki, kita lanjutkan besok di bagian kedua ya.

You Might Also Like

0 comments

Follow Me on Facebook

Follow Me on Twitter

Contact Me

Name

Email *

Message *